Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya
merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya
kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya,
tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur'an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah
kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada
orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat
terkenal di langit.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi
yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang
telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk
mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.
Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang
hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan
buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di
siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Assalamu'alaikum
| Image From Google |
Sebagai Khalifah selepas kematian Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar
Bin Al-Khaththab sangat merasa berat dalam memimpin rakyatnya. Ada suatu malam
dia meronda di sekeliling kota dan kampung untuk melihat hal rakyatnya, dia
mendengar tangisan anak-anak. Sayyidina Umar menghampiri pondok buruk tempat
tinggalnya anak-anak itu.
SEORANG PEMUDA belia dari Kabilah Aslam sedang termenung sendirian. Agaknya
dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda itu kuat,
gagah, penuh gairah untuk menghadapi masa depan yang penuh akan tantangan. Badannya
tegap dan kuat, sanggup untuk dihadapkan pada perjuangan seperti yang sedang
dilakukan oleh orang lain, Jihad Fi Sabilillah adakah jalan yang lebih afdol
dan mulia selain Jihad Fi Sabilillah?. Rasa – rasanya tidak ada. Sebab itulah
satu – satunya jalan jika benar – benar telah menjadi tujuan dan niat suci
untuk mencari restu dan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. “Demi Allah, inilah
satu kesempatan yang sangat baik” kata hati pemuda itu. Yah, sebab disana, rombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan juang Jihad Fi Sabilillah
Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang segera berangkat. Semuanya menampakkan
wajah yang senang, pasrah, dan tenang dengan suatu iman yang terdalam. Wajah –
wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal berpantang
mati. Maut akan menimpa dimana kita berada. Yakin bahwa umur itu satu. Kapan akan
sampai batasnya, hanya Allah Yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya,
takdir Allah lah yang menentukan.