Tampilkan postingan dengan label doaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doaku. Tampilkan semua postingan

hati, dimanakah kau?

Imaga From Google

Senja datang berlarian bersama gelapnya malam,
Jejak penuh darah, tertinggal dalam setiap petak telapak kaki
Jiwa teramat rapuh, terombang ambing dalam lautan nista
Peganganku melemah, perjalanan terhenti oleh butanya hati

Read More »

Antara Dua Cinta


Image From Google

Apa  yang ada jarang disyukuri dan apa yang tiada sering dirisaukan
Nikmat yang dikecap baru akan terasa bila telah hilang
Apa yang diburu timbul rasa jemu bila sudah di dalam genggaman
Dunia ini ibarat air laut, diminum hanya menambah haus
Nafsu bagaikan fatamorgana di padang pasir, panas yang membahang disangka air
Dunia dan nafsu bagai bayang-bayang, di lihat ada ditangkap hilang.

Tuhan,
Leraikanlah dunia yang mendiam didalam hatiku
Berada disitu tidak aku mampu mengumpul dua cinta
Hanya cinta-Mu kuharap tumbuh
Dibajai bangkai dunia yang kubunuh

Rembulan di Kala Fajar

Image From Google

Rembulan tampak bercahaya, mengikis semua kepekatan malam
Tanpa sekat awan hitam yang siap memuntahkan semua isinya
Sunyi musnah sudah, ketika sepasang bola mata melihat cahaya yang mententramkan sanubari
Di ufuk timur terlihat sang surya berlarian menghapus gelapnya malam 
Tak sadar air garam dalam kelopak matapun mengalir, tanda syukur atas keagungan-Nya

Read More »

Secarik Kertas Untuk Ibu


Ibu,
Beban seakan tak pernah ada habisnya. Bahkan, kian lama kian memberatkan pundakmu, engkau berusaha sendirian untuk menghidupi kami anakmu walau urat malu putus pun kau tak hiraukan. “Ini demi anakku”, mungkin kalimat ajaib itu yang selalu engkau sematkan dalam sanubari sehingga entah dari mana kekuatan itu hadir dan mendorong semangat juangmu.

Cintamu bagai mata air zam-zam yang tak pernah habis sepanjang zaman, kasih sayangmu selalu kau curahkan dengan bentuk ragam dan rupa, senyumanmu selalu bersimpul padu dengan cinta kasihmu, lautan maaf selalu tercurah walau pembangkangan kami setiap waktu selalu menyayat relung hati, meski air mata menetes pilu engkau tetap tegar dan tersenyum untuk kami.

Read More »

Kau Kembali, Hujan


Melihat kegersangan tanah melayang diterpa angin menebar menjadi debu yang menyesakkan dada, tanaman yang tak tumbuh layaknya dulu yang hijau nan indah. Sungai – sungai menjadi kering kerontang seakan tenggorokan yang merongrong dan menjerit karena kehausan, Air  pun seakan barang yang langka ditemui oleh setiap orang

Read More »

DO'A QALBU



Di malam penuh bintang
Di atas sajadah yang ku bentang
Sedu sedan sendiri
Mengadu pada Yang Maha Kuasa

Read More »

Mereka Penghijau Dunia


Puisi Anak Jalanan

Mereka manusia yang tangguh,

Mereka manusia yang utuh,
Mereka manusia yang berpengaruh,
Merekalah Anak Jalanan

Read More »